Saturday, October 11, 2008

Habib Hasyim Alaydrus

1 comment:

algembira said...

Anak Cucu Pangeran Syarif Ali Alaydrus:

Manaqib Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus
bin Asy-Syarif As-Sayyid Abdurrahman Al-Idrus Sabamban Kal-Sel

Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus adalah pendiri dari kerajaan Sabamban dengan nama lain yang dikenal oleh masyarakat setempat “ Makam Keramat Dermaga “ (Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan) pada pertengahan abad ke-18, kurang lebih hampir bersamaan dengan periode pemerintahan Sultan Adam (Raja Banjar ke-12 periode 1825-1857).

Orang tua Sultan Asy-Syarif Ali Al-Idrus yaitu Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman Al-Idrus adalah anak dari Sultan Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus pendiri dari Kerajaan Kubu pertama, sedangkan Uminya Syarifah Aisyah Al-Qadri Jamalullail adalah putri Sultan Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman Al-Qadri Jamalullail pendiri Kerajaan Pontianak dari istri yang bernama Putri Utin Chandra Midi yang bergelar Sri Paduka Ratu Sultan putri ketiga dari Panembahan Mempawah Opu Daeng Menambun bin Daeng Rilaga.

Perkawinan Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman Al-Idrus dengan Syarifah Aisyah Al-Qadri Jamalullail, lahirlah 6 (enam) orang putra yaitu :

1. Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus
2. Asy-Syarif Al-Habib Aqil Al-Idrus
3. Asy-Syarif Al-Habib Husein Al-Idrus
4. Asy-Syarif Al-Habib Dayud Al-Idrus
5. Asy-Syarif Al-Habib Saggaf Al-Idrus
6. Asy-Syarif Al-Habib Alwi Al-Idrus

Jadi keluarga dari sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus Sabamban mempertemukan 2 jalur darah kerajaan Kalimantan, yaitu dari jalur Raja Kubu (Al-Idrus) dan Raja Pontianak (Al-Qadri Jamalullail).

Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus diasuh serta dibina dua kerajaan besar yaitu Kerajaan Kubu dan Kerajaan Pontianak dan dibina oleh Abahnya sendiri juga dibina oleh Ami-aminya yang salah satu Aminya menjabat Kesultanan Ambawang pertama yaitu Sultan Asy-Syarif Al-Habib Alwi Al-Idrus.

Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus pendiri kerajaan Sabamban yang merupakan cucu dari Tuan Besar Raja Kubu Sultan Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus ini pada awalnya beliau menetap di daerah Kubu bersama keluarga Abahnya dari kerajaan Kubu, pada masa itulah beliau mendapatkan istri dan berputra dua orang yaitu Asy-Syarif Al-Habib Hasan Al-Idrus dan Asy-Syarif Al-Habib Abu Bakar Al-Idrus.

Karena ada suatu konflik keluarga di Kubu, akhirnya Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus suka berkunjung ke tempat Kakeknya dari Umi di Pontianak yang merupakan Raja Pontianak, dari sana beliau mendapatkan informasi tentang jalur ke Kalimantan Selatan, karena kakeknya sering berlayar ke Negeri Banjar dari Mempawah dan tinggal di Negeri Banjar selama empat bulan, kemudian berlayar lagi ke Negeri Pasir (Kutai) dan berhenti di situ selama tiga bulan, setelah itu kembali ke Negeri Banjar setelah dua bulan menetap di sana, kakeknya Sultan Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman Al-Qadri Jamalullail di kawinkan dengan Putri Sultan Sepuh, Saudara dari Panembahan Batu yang bernama Ratu Syahbanun. Sebelum kawin, Kakeknya yang bernama Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman Al-Qadri Jamalullail di lantik oleh Panembahan Batu menjadi Pangeran dengan gelar Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam. dua tahun kemudian Syarif Abdurrahman Al-Qadri Jamalullail kembali ke Negeri Mempawah, setahun kemudian kembali lagi ke Negeri Banjar, selama empat tahun di Banjar beliau memperoleh dua orang anak. Anak yang laki-laki diberi nama Syarif Alwi diberi gelar Pangeran Kecil dan yang perempuan bernama Syarifah Salmah diberi gelar Syarifah Putri.

Dari kisah Kakeknya ini akhirnya Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus tambah mantap tekatnya untuk pergi ke negeri Banjar apalagi ada ajakan dari Abahnya Asy-Syarif Al-Habib Abdrurrahman bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus, ikut serta pula Sepupunya Asy-Syarif Al-Habib Ja’far bin Abu Bakar keturunan dari Asy_syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus dan juga Aminya Asy-Syarif Al-Habib Zain bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus, memutuskan untuk hijrah ke Banjar dengan meninggalkan istri serta kedua putranya yang masih berdiam di Kerajaan Kubu. Beliau berlayar melalui sungai Kapuas ke laut lepas lalu masuk sungai Barito hingga sampai ke daerah Sabamban di daerah Banjar Kalimantan Selatan, lalu beliau membuka wilayah pemukiman dan mendirikan kerajaan Sabamban serta beliau diminta menjadi Raja Sabamban pertama yang bergelar Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus.

Masyarakat Banjar umumnya pada waktu itu terbagi menjadi dua golongan sosial masyarakat yaitu : golongan Masyarakat Jaba ( awam ) dan golongan Tutus. Golongan masyarakat Jaba adalah golongan pengabdi kepada golongan masyarakat Tutus, sedangkan golongan Tutus itu sendiri adalah golongan masyarakat yang memiliki keturunan bangsawan Raja atau istilahnya darah biru. Masyarakat Banjar umumnya percaya golongan Tutus memiliki kekuatan Bathin / Rohani yang tidak bisa ditandingi oleh golongan masyarakat Jaba. Kedudukan Raja di anggap sebagai pelindung dan pemelihara masyarakat dari malapetaka dan bencana, dan Tahta memiliki kekuatan gaib yang hanya mampu di duduki oleh orang dari golongan Tutus. Istilah Tutus itu sendiri mengacu kepada pengertian kekuatan irasional yang berarti seorang Tutus itu adalah orang yang suci dan terlepas dari unsur-unsur duniawi serta pengaruhnya. Demikian pula halnya dengan tahta kerajaan yang dianggap bukan benda duniawi yang mana tahta di datangkan dari luar dunia, tahta adalah barang suci yang terbebas dari pengaruh dunia, oleh karena itu tahta hanya bisa diduduki orang Tutus, dan jika tidak maka itu akan menimbulkan bencana dan malapetaka. Jadi Raja dan Tahta adalah dwitunggal sebagai wujud kekuasaan religius dan pemerintahan.

Hal itu yang kemungkinan menyebabkan kenapa masyarakat Sabamban waktu itu meminta Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus menjadi Sultan Sabamban, karena Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus itu sendiri kalau Nasabnya di telusuri ke atas baik Nasab dari Abah maupun Umi beliau adalah merupakan Keturunan Bani Alawi Dzurriyatur-Rasul yang dikenal orang seluruh dunia dimana keturunan ini menurunkan para Imam, Auliya, Sholihin serta Shidiqin. Juga Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus merupakan keturunan daripada Raja-Raja besar seperti ; Kubu, Pontianak, Mempawah serta Mataram di Jawa. Hal itu tercermin dari pribadi Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus yang selain menjabat Raja Sabamban juga berperan sebagai Ulama yang giat menyebarkan agama Islam di wilayah Kalimantan, khususnya wilayah yang pernah beliau singgahi.

Pada saat Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus menjadi Raja Sabamban ini, beliau menikah lagi dengan tiga wanita, antara lain ; putri dari kesultanan Bone, putri dari Kesultanan Banjar di daerah Nagara Hulu Sungai Selatan, serta putri dari kesultanan Makasar. Dari ketiga istri beliau di Banjar Kalimantan Selatan serta seorang istri beliau di Kubu Kalimantan Barat, Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus memiliki 12 putra yaitu :

Dari istri pertama di Kubu :
1.Asy-Syarif Al-Habib Hasan Al-Idrus (Makamnya dekat makam Raja Sabamban)
2.Asy-Syarif Al-Habib Abu Bakar Al-Idrus ( Makamnya di Angsana, di Pantai)

Dari istri kedua putri kesultanan Bone Sulawesi Selatan :
3.Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus (Makamnya di Tatatakan, depan Masjid Tambarangan Kabupaten Tapin)
4.Asy-Syarif Al-Habib Thoha Al-Idrus (Makamnya di Batulicin, Tanah Bumbu)
5.Asy-Syarif Al-Habib Hamid Al-Idrus (Makamnya di Batulicin, Tanah Bumbu)
6.Asy-Syarif Al-Habib Ahmad Al-Idrus (Makamnya di Batulicin, Tanah Bumbu)

Dari istri ketiga putri Kesultanan Banjar di daerah Nagara Hulu Sungai Selatan:
7.Asy-Syarif Al-Habib Thohir Al-Idrus ( Makamnya di Kalimantan Barat )
8.Asy-Syarif Al-Habib Umar Al-Idrus (Makamnya di Terjun, Kotabaru)
9.Asy-Syarif Al-Habib Husein Al-Idrus (Makamnya di Kotabaru)
10.Asy-Syarif Al-Habib Sholeh Al-Idrus (Makamnya di Angsana, di Pantai)

Dari istri keempat putri Sultan Makasar Sulawesi Selatan :
11.Asy-Syarif Al-Habib Muhammad Al-Idrus (Makamnya di Angsana, di Pantai)
12.Asy-Syarif Al-Habib Utsman Al-Idrus (Makamnya di Pagatan, Tanah Bumbu)

Pada masa Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus menjabat sebagai Raja Sabamban itulah daerah ini mulai berkembang ramai dan makmur, banyak para pedagang dari luar daerah berdatangan ke Sabamban. Dan dari para pedagang itulah tersebar berita tentang keberadaan serta kemasyhuran kerajaan Sabamban, sehingga sampailah berita itu ke tanah kelahiran Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus di Kubu dan Pontianak Kalimantan Barat. Yang mana ketika kedua anak beliau dari istri pertama di Kubu Kalimantan Barat yaitu Asy-Syarif Al-Habib Hasan Al-Idrus dan Asy-Syarif Al-Habib Abu Bakar Al-Idrus mendengar berita tentang keberadaan Abahnya di Sabamban akhirnya memutuskan menyusul Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus ke Sabamban serta menetap di sana bersama Abah dan saudara-saudara sebapak-lain ibu mereka.

Menjelang De Banjarmasinche Krijg ( Perang Banjar ) yang di mulai dari tahun 1859 M itulah, Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus wafat, lalu jabatan sebagai Raja Sabamban kedua yang seharusnya dijabat oleh Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus selaku putra Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus yang pertama yang lahir di Negeri Banjar, akan tetapi karena beliau tidak berkenan dan tidak menginginkan kedudukan itu, maka keponakan beliau yang jadi yaitu Asy-Syarif Al-Habib Gasim bin Asy-Syarif Al-Habib Hasan bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus itulah yang menjabat sebagai Raja Sabamban II.

Setelah wafatnya dua Raja yang sangat gigih menentang Belanda yaitu: Raja Sabamban I Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus menjelang De Banjarmasinche Krijg serta wafatnya Sultan Adam Raja Banjar ke-12 pada tanggal 1 November 1857, maka pemerintah kolonial Belanda sebagai penjajah Indonesia termasuk Kalimantan Selatan waktu itu semakin semena-mena dan terjadilah kekacauan di mana-mana hingga pecahlah perang banjar yang pertama pada tanggal 28 April 1859 meliputi seluruh wilayah Kalimantan Selatan.

Adapun disebabkan berkobarnya perang dan pemerintah kolonial Belanda ingin menguasai kerajaan Sabamban beserta asetnya, maka dari pihak keturunan Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus yang sangat anti pada penjajah Belanda membumi hanguskan sendiri istana kerajaan Sabamban agar tidak bisa dikuasai pihak Belanda.

Akan tetapi sampai sekarang kita masih bisa menjumpai jejak warisan peninggalan kerajaan Sambamban ini berupa kehalusan Akhlaq budi pekerti para keturunannya serta kedalaman ilmu mereka yang merupakan Dzurriyatur-Rasul, di samping itu jejak fisik bukti peninggalan ini kerajaan Sabamban itu bisa kita temui berupa tiang-tiang pilar istana dan meriam milik kerajaan Sabamban yang sekarang di tempatkan di kantor kecamatan Angsana, serta makam Raja-Rajanya yaitu Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus dan Sultan Asy-Syarif Al-Habib Gasim Al-Idrus yang dikenal masyarakat sebagai “ Makam Keramat Dermaga “ di dekat pantai Sabamban, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Indonesia.

Akhirnya, sepanjang sejarahnya kerajaan Sabamban ini hanya dijabat oleh dua orang Raja saja yaitu ; Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus sebagai pendiri sekaligus Sultan pertama dan cucu beliau Sultan Asy-Syarif Al-Habib Gasim Al-Idrus sebagai sultan kedua, hingga akhirnya kerajaan Sabamban ini hilang dari muka bumi Kalimantan Selatan. Hanya saja, keturunan beliau hampir semua dijiarahi, yang dianggap makam keramat (Waliyullah).

Salah satu putra Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus yang bernama Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus ( adiknya Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus ) dari Kotabaru merantau ke Sampit dan di sana kemudian menikah dengan perempuan asal Nagara. Di Sampit ini beliau memiliki kebun kelapa yang oleh beliau kemudian ditinggalkan karena Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus bersama sang istri pulang kampung, ke daerah asal istrinya di Nagara (Kandangan) . Suatu ketika Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus mengunjungi kakeknya di Pontianak yaitu Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman bin Sultan Kubu Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus. Akhirnya Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus tak kembali ke tanah Banjar karena meninggal dunia di Pontianak. Kebun kelapa di Sampit yang dtinggalkan Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus dan istrinya itu sebenarnya dititipkan kepada tetangga. Suatu ketika putra beliau yang tertua Asy-Syarif Al-Habib Ja'far Al-Idrus (saudara Asy-Syarif Al-Habib Hasan Al-Idrus) ke Sampit untuk melihat-lihat kebun kelapa itu. Namun si tetangga tak mengakui. Dan, akhirnya muntah darah-lah si tetangga yang khianat itu. Asy-Syarif Al-Habib Ja'far Al-Idrus punya anak namanya Asy-Syarif Al-Habib Salim Al-Idrus ( Abahnya Habib Yahya Al-Idrus, mantan Bupati Pangkalanbun), disamping itu juga ada salah satu buyutnya Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus yang bernama Asy-Syarif Al-Habib Ahmad Al-Idrus Tanjung, selaku yang menangani nasab dan mendata nasab yang dapat dipercaya sebagai dasar rujukan oleh Maktab Ad-Daimy dan Naqobatul Asyraaf untuk wilayah Kalimantan.

Kemudian Asy-Syarif Al-Habib Umar Bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus (Adik Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus) yang bermukim di daerah Tarjun, Kotabaru. Beliau kemudian dikenal sebagai “ Pangeran Tarjun “ menyebarkan agama Islam atau Ulama di sana hingga akhir hayat beliau dan di makamkan di daerah Tarjun, yang selalu dijiarahi oleh masyarakat, karena memiliki karomah atau Waliyullah, tepatnya di dekat area pabrik semen Kotabaru.

Adapun Asy-Syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus setelah pernyataan ketidak inginan beliau untuk menjadi Sultan, maka beliau lebih memilih mengembangkan syi’ar agama Islam ke daerah-daerah lain di Kalimantan Selatan khususnya hingga akhir hayat beliau dan di makamkan depan Masjid Tambarangan di daerah Tatakan kabupaten Tapin yang terkenal dengan sebutan “ makam Turbah tua / Surgi Syarif Mustafa “ yang saat ini lagi dalam proses dibangun. Di sebelah makam Asy_syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus ini juga terdapat makam istri kedua beliau. Dan sampai sekarang, makam beliau menjadi salah satu tempat yang sering dijiarahi oleh masyarakat, Karena menurut cerita beliau adalah salah satu keturunan Sultan sekaligus Ulama dan Waliyullah yang memiliki banyak karomah.
Adapun beberapa karomah beliau antara lain :

1.ketika beliau berbicara dengan Abahnya Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus, suaranya masih ada di tampat, akan tetapi beliau berdua sudah tidak terlihat lagi karena sudah jauh menghilang.

2.Apabila beliau berada di suatu tempat, dan ada orang Belanda yang menunggang kuda atau naik Kereta Kuda, maka seketika juga kuda itu akan berhenti berjalan dan menurunkan ekornya menutupi bagian belakangnya.

3.Apabila beliau berwudhu, sewaktu-waktu beliau menceburkan diri ke sungai atau kolam, ketika beliau naik ke daratan maka bagian tubuh yang basah hanya daerah wudhu saja.

4.Ketika ditembak, peluru hanya menempel di jubah beliau dan ketika dikibaskan maka peluru itu berjatuhan di tanah, sebagian lagi mengenai pepohonan.

5.Bila ada burung yang terbang di atas makam beliau maka akan terjatuh seketika.

6.Di waktu malam hari, makam beliau seperti ada cahaya yang terang.

7.Masyarakat sekitar kadang-kadang melihat dua ekor Macan yang menjaga makam beliau.

Itulah beberapa karomah beliau yang sering diceritakan oleh masyarakat setempat dan para keluarga keturunan beliau.

Asy-Syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus meninggalkan beberapa putra dan putri dari tiga orang istri beliau, yaitu ;

Dari putri Bugis di Batulicin, melahirkan :
1.Asy-Syarif Al-Habib Muhammad Al-Idrus
2.Syarifah Syaikha Al-Idrus

Dari istri kedua di Tatakan yang bernama Alama binti Amidin, keturunan Datu Labas (makamnya di Lok Paikat, Tapin), melahirkan :
3.Asy-Syarif Al-Habib Umar Al-Idrus (Makamnya di belakang Masjid Tambarangan)
4.Syarifah Alaiyah Al-Idrus
5.Syarifah Qomariah Al-Idrus
6.Syarifah Masturah Al-Idrus
7.Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus (Makamnya di belakang Masjid Tambarangan).

Dari istri ketiga, Syarifah Mujenah binti Al-Habib Ali Asseggaf (Kandangan) :
8.Asy-Syarif Al-Habib Alwi Al-Idrus, tidak memiliki keturunan.

Anaknya Asy-Syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus yang bernama Asy-Syarif Al-Habib Hasyim bin Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus yang bermukim di daerah Tatakan, Rantau Kabupaten Tapin, memiliki tiga istri dan menurunkan keturunan yang antara lain :

1.Asy-Syarif Al-Habib Hasan Badri Al-Idrus (domisili Jogja atau Bulungan).
2.Asy-Syarif Al-Habib Ahmad Al-Idrus (makamnya di Halong, Paringin).
3.Asy-Syarif Al-Habib Abu Bakar Al-Idrus (makamnya di depan makam Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus).
4.Asy-Syarif Al-Habib Abdul Hamid Al-Idrus (domisili Rantau)
5.Syarifah Aminah (domisili Rantau)
6.Syarifah Zubaidah (domisili dekat komplek makam Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus).
7.Syarifah Aisyah (domisili dekat komplek makam Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus).
8.Syarifah Nurhayati / Ibu Ifah Nur (domisili di depan Polsek Tambarangan)

Asy-Syarif Al-Habib Hasyim bin Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus memiliki kegemaran berjiarah ke makam Syekh Maulana Abdussamad Al-Palimbangi yang lebih dikenal sebagai “ Datu Sanggul ” (Ulama yang sezaman dengan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari). Dan ketika bermunculan kelompok-kelompok “Gerombolan” di era pasca kemerdekaan antara tahun 1945 sampai tahun 1950, Asy-Syarif Al-Habib Hasyim bin Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus ini merupakan figur tokoh kharismatik yang disegani baik dari pihak Gerombolan maupun dari pihak pemerintahan. dimana setiap yang memiliki hubungan dengan Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus tidak akan diganggu oleh kelompok Gerombolan juga tidak akan ditangkap oleh Pemerintah. Beliau merupakan salah satu tokoh yang giat menyebarkan syi’ar Islam hingga beliau wafat pada tahun 1960 M, dan dimakamkan di belakang Masjid Tambarangan, Tatakan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan dan dikenal sebagai Keramat Betatak.

Mengenai gelar Keramat Betatak ini dikarenakan suatu ketika beliau hendak shalat subuh dan mengambil air wudhu di sungai, sarung beliau diinjak dari belakang oleh seorang pria dan seorang wanita yang menyimpan iri dengki kepada beliau, hingga menyebabkab beliau terjatuh dalam posisi tengkurap, lalu dua orang tadi yang sebelumnya sudah menyiapkan senjata tajam, segera menyerang Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus. Akan tetapi serangan pria itu tidak dapat menembus kulit beliau sedikit pun, hanya wanita saja yang dapat melukai tubuh beliau, begitu juga wanita itu yang segera menyayat punggung beliau seperti menyayat ikan, namun sayatan itu tidak dapat begitu dalam melukai beliau, hanya sedalam kurang lebih ½ cm. Selama beberapa hari beliau berada di pinggir sungai dalam posisi tengkurap namun beliau tidak meninggal, sampai akhirnya ditemukan dan dibawa oleh sanak keluarga ke rumah, dan beliau kembali sehat seperti sedia kala hanya dalam tempo beberapa hari. Lain halnya dengan pria dan wanita pelaku penyerangan itu yang mengalami muntah darah dan menjadi gila hanya dalam tempo yang singkat setelah aksi jahat mereka, kemudian rumah mereka pun terbakar beserta pria dan wanita yang telah menjadi gila itu, dan mereka terbakar hidup-hidup di dalam rumah mereka. Sejak itulah Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus di kenal sebagai Keramat Betatak.

Adapun salah Satu cucu Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus yang bernama Asy-Syarif Al-Habib Muhamad Effendi bin Asy-Syarif Al-Habib Hasan Badri bin Asy-Syarif Al-Habib Hasyim bin Asy-Syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus Raja Sabamban pertama, telah dinobatkan selaku Imam Mursyid salah satu Thariqah Mu’tabarah pada hari Kamis 16 Ramadhan 1423 / 21-11-2002, oleh Rais Am Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah Indonesia yaitu Al-Allamah Al-Arif Billah Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim Bin Yahya, Pekalongan (Jateng).

Demikianlah sedikit daripada kisah Raja Sabamban I Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus beserta keturunannya yang InsyaAllah akan bermanfaat, serta akan memberikan Barokah bagi kita semua yang membacanya.

Akhirul kalam, salah dan khilaf adalah semata dari saya yang dhaif ini dan kebenaran hanyalah kepada Allah Azza Wa Jalla. saya mohon ampunan atas kesalahan serta mengharapkan keridhoan-Nya. Amin Yaa Rabbal ‘Alamin.

.::SELESAI::.



Narasumber : Ir.Asy-Syarif Al-Habib Muhamad Effendi bin Hasan Badri bin Hasyim bin Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus


Penulis : Eko Setiadi@102007
(dari kisahbanua.blogspot.com)